Berita Update dan Terkini

Selasa, 11 Februari 2020

Berapa Perhitungan Gaji Karyawan Outsourcing Jakarta?



Di samping memiliki karyawan tetap, perusahaan pun mengenal istilah karyawan outsourcing. Keberadaan karyawan outsourcing Jakarta ini sering menjadi opsi perusahaan sebab hanya diperlukan pada masa-masa tertentu saja dan tidak untuk berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan. Sebagaimana menurut keterangan dari Pasal 65 ayat 2 UU No.13 Tahun 2003, melafalkan poin-poin jenis kegiatan yang dapat dilakukan karyawan outsourcing yang pada intinya hanya dapat direkrut untuk menggarap pekerjaan di luar kegiatan inti perusahaan pemakai jasa, misalkan untuk keamanan, kebersihan, kurir, supir, petugas manajemen fasilitas, dan sebagainya.

Outsourcing Jakarta (alih daya) dapat diartikan sebagai pemakaian tenaga kerja dari pihak ketiga untuk menuntaskan pekerjaan tertentu. Ya, karyawan outsourcing dengan kata lain bernaung di perusahaan distributor sebelum ditugaskan ke perusahaan yang memerlukan (klien/user). Pekerjaan yang diberikan dapat berupa sebagian pekerjaan saja atau dapat juga dengan sistem borongan. Bagi masa kerjanya bergantung pada jenis kontrak yang disepakati perusahaan yang merekrut mereka.

Dalam kerja outsourcing Jakarta, perusahaan penyedia jasa ini mengerjakan pembayaran terlebih dahulu untuk karyawannya, kemudian mereka menagih ke perusahaan klien. Karyawan outsourcing sendiri seringkali bekerja dengan sistem kontrak dengan perusahaan pemakai, bukan dengan perusahaan distributor jasanya.

Sistem outsourcing Jakarta dapat menguntungkan, namun juga dapat merugikan baik dari segi perusahaan atau dari segi karyawan. Untuk perusahaan, merekrut karyawan outsourcing dapat menghemat perkiraan pelatihan, meminimalisir beban rekrutmen, dan lebih konsentrasi mengurusi pekerjaan inti bisnis. Sedangkan kekurangannya adalah banyak informasi perusahaan yang rentan bocor dan sistem kontrak singkat sehingga dapat merepotkan andai harus berganti karyawan outsourcing.

Bagi karyawan, sistem outsourcing pasti akan menolong mereka mendapatkan kegiatan tanpa mesti memasukkan lamaran ke berbagai tempat, mereka juga dapat lebih luwes mengembangkan diri sebab tidak terikat kedudukan pekerja tetap, beralih perusahaan juga dapat menambah relasi mereka. Namun, dibalik hal itu ada pun kekurangannya yakni melemahkan posisi, tidak ada garansi kepastian kerja, tidak terdapat jenjang karir, dan kesejahteraan yang rendah.

Masalah kesejahteraan karyawan outsourcing tidak jarang menjadi ulasan lantaran gaji yang dirasakan kecil sebab terlalu banyak dipangkas oleh perusahaan penyalur. Seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nawawi, mengungkapkan bahwa upah pekerja outsourcing dengan pekerja kontrak dengan posisi sama di Indonesia paling timpang. Perbedaanya menjangkau 30% lebih rendah. Itu baru dikomparasikan dengan pekerja kontrak, bila dikomparasikan dengan pekerja tetap maka bakal jauh lebih banyak lagi.


Lantas apakah benar pemangkasan gaji karyawan outsourcing tersebut diluar batas kewajaran? Bagaimana sebetulnya perhitungan gaji mereka?

Menurut keterangan dari Ketua Bidang Data dan Sertifikasi Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI), Anta Ginting, perusahaan outsourcing tidak memotong gaji karyawannya sebab mereka tetap menerima fee dari perusahaan pemakai tenaga kerja (user) tiap bulannya. Sedangkan semua pekerja tetap mendapatkan gaji sesuai Upah Minimum Provinsi (UMP). Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa di samping gaji UMP, perusahaan outsourcing diharuskan membayarkan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Pada intinya, semuanya tentu mempunyai upah yang sesuai dengan kesepakatan bersama. Sebagaimana yang ditata dalam Pasal 1 ayat 30 UU Nomor 13 Tahun 2003 melafalkan bahwa upah atau gaji ditetapkan dalam format uang sebagai imbalan dari pengusaha untuk karyawan yang diputuskan dan ditunaikan sesuai perjanjian kerja, kesepakatan, atau ketentuan perundang-undangan.

Sebagai contoh, andai perusahaan outsourcing Jakarta dengan karyawan sudah menyepakati gaji 2 juta rupiah, maka perusahaan outsourcing bakal meminta ongkos dengan perusahaan user sebesar 1,8 kalinya atau Rp2.000.000,- x 1,8 = Rp3.600.000,-.

0 komentar:

Posting Komentar